Category Archives: PERAWAT

DAFTAR PESERTA AUDIENSI KEMENKES dan Seminar Klinik Keperawatan Mandiri

Assalamu’alaikum Wr Wb

Kabar gembira bagi teman-teman semua PPNI Kuwait akan mengadakan 2 Acara Akbar Sekaligus di tahun ini,
1. *Acara tanggal 7 Mei Pukul 6 pm* yaitu *Audiensi dan tatap Muka dengan Pejabat Kemenkes RI dan Bapak Duta Besar RI kuwait*
2. *Acara tanggal 12 Mei pukul 3pm bertepatan dg Hari Perawat Internasional yaitu temu seluruh Perawat indonesia di kuwait lintas angkatan dan Seminar Klinik Keperawatn Mandiri yang lagi Hits di Indonesia dg mendatangkan Langsung Ketua umum PPNI Bapak Harif Fadilah.,S.Kp., SH., MKep dan Sekjen DR Mustikasari., SKp., MARS*

*Tempat Di Aula KBRI – Kuwait*

Hadiri Kesempatan Langka Ini dan Tempat sangat Terbatas. Untuk seluruh Perawat Indonesia di Kuwait dan *Free*
*Fasilitas : – Dinner*
*- Cofee Break*
*and snack*
*- Seminar KIT*
*- Sertifikat* *(untuk acara tgl 12)*

“ Untuk daftar silahkan klik DAFTAR

*Salam Perawat Indonesia 💪💪*

Sebarkan info ini ke teman,tetangga, teman kerja di hospital/klinik.

*Presented By:*
*Komite Higher Education PPNI* *Perwakilan Kuwait*
*Dept Komunikasi* *Informasi DPLN PPNI Kuwait*

*Info lebih lanjut hub :*
*- Robby ‭+965 65985248‬*
*- Suhardi ‭+965 65536359*

Langkah – Langkah yang diambil PPNI terhadap Kasus yang Menimpa ZA

Peristiwa dugaan pelecehan sexual yang dilakukan seorang perawat terhadap pasien di RS National Hospital Surabaya menjadi viral di medsos. Keragaman opini di masyarakat terus memojokkan tersangka perawat ZA yang melakukan dugaan kegiatan yang kurang terpuji, dilakukannya terhadap pasien berinisial W pada Selasa 23 Januari 2018 lalu. Kasusnyapun sampai saat ini sudah ditangani Mapolrestabes Surabaya, bahkan tersangka ditahan.

Kasus perawat ZA

Kasus perawat ZA

Kejadian yang diduga melanggar kode etik keperawatan sangat memukul organisasi profesi, tentunya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang menaungi perawat ditanah air, sehingga melakukan upaya- upaya penulusuran kasus dan tidak tinggal diam terhadap peristiwa ini.

Pengurus PPNI diminta juga untuk mengklarifikasi kejadian yang menimpa anggotanya. Permintaan wawancara yang dilakukan media massa terhadap Ketum DPP PPNI Harif Fadhillah, Ketua DPP Bidang Sistem Informasi & Komunikasi Rohman Azzam maupun Pengurus PPNI Jawa Timur untuk mencari titik terang terhadap masalah ini. Tentunya kebenaran perawat yang terduga melakukan pelecehan kepada pasien ini nantinya akan dibuktikan di pengadilan. Sehingga leristiwa ini pun menjadi pelajaran terbaik bagi perawat untuk tetap menjalankan profesi terbaiknya dan agar tidak terpengaruh oleh kejadian ini.

Beberapa upaya sudah dilakukan Pengurus PPNI (Pusat), DPW PPNI Jawa Timur dan DPD PPNI Kota Surabaya untuk mencari solusi dan langkah terbaik terhadap tersangka :

1. Pada awal tersebarnya Video, melalui DPW Jatim telah mengkonfirmasi peristiwa tersebut dengan bertemu dengan perwakilan manajemen RS NH dan pengurus PERSI Jawa Timur

2. Melakukan investigasi dan pengumpulan data kepada pihak pihak terkait : Keluarga ZA, Manajemen RS, Dinas Kesehatan

3. Membentuk Tim Etik (MKEKep Jatim dan MKEK Pusat)

4. Mengadakan pertemuan dengan Pihak terkait mengadvokasi kasus : RS NH, Dinas Kesehatan, Persi dan Kepala Daerah dan LSM

5. Menyediakan Pengacara untuk ZA sebagai bentuk tanggung jawab organisasi profesi terhadap anggota dalam rangka memberikan pendampingan dan bantuan hukum dengan asas praduga tak bersalah yang seluruh pembiayaannya oleh PPNI. Oleh sebab itu tidak menjadi kewajiban anggota lain untuk mengumpulkan patungan biaya konsultan hukum/ pengacara bagi Perawat ZA, karena hal itu sudah menjadi tugas PPNI.

6. Melalui Pengacara berkoordinasi dengan Kepolisian untuk dimohonkan tahanan luar/tahanan kota.

8. Memberikan pemberitaan yang berimbang di berbagai media dengan tema perlindungan terhadap profesi dalam menjalankan tugas profesinya, hal ini dikarenakan ZA ini langsung di tahan dan langsung di Pecat dengan Proses yang singkat.

9. Melaporkan kronologis kejadian ini kepada Menteri Kesehatan RI dalam Rapat Khusus kasus ZA pada tanggal 30 Januari 2018.

10. Memberikan support dan bantuan moril kepada Keluarga ZA yang sedang tersandung masalah hukum.

Sumber : http://ppni-inna.org/index.php/public/information/news-detail/18

Selamat mas Parman,,, satu lagi Perawat kita yang Berprestasi di Kuwait

Bekerja di luar negeri bukan halangan buat profesi perawat untuk mengukir prestasi. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak temen – temen kita, khususnya perawat Indonesia yang bekerja di negara Kuwait.

Di Kuwait, komposisi staf perawatnya selain berasal dari perawat pribumi Kuwait sendiri juga ada perawat – perawat yang berasal dari negara lain, seperti perawat dari negara : Mesir, Yordania, Saudi Arabia, India, Pakistan, Filipina juga perawat dari negara kita Indonesia. Namun alhamdulillah di tengah – tengah persaingan global, namun perawat – perawat asal Indonesia juga sangat dipertimbangkan keberadaannya di negara arab yang mayoritas Islam ini.

Terbukti perawat kita yang bernama mas Suparman, AMK telah mendapatkan penghargaan di RS Fawaniyah tempat beliau bekerja selama ini.

Selain perawat – perawatnya, WNI yang ada di Kuwait juga tidak sedikit yang juga pernah menorehkan prestasi – prestasinya, bahkan anak – anak Indonesia yang di Kuwait juga banyak yang berprestasi.

Cerita Dibalik 3 Orang Perawat New Comer di Kuwait

Kabar kedatangan perawat yang baru join di RS DAR ALSHIFA KUWAIT menuai banyak perhatian dari banyak orang baik yang ada di Kuwait sendiri maupun yang di Indonesia. Pasalnya berita kedatangannya sangat mengejutkan disaat teman – teman di Indonesia sedang melakukan proses pendaftaran buat 37 orang staf homecare dan 10 tenaga fisioterapi yang baru akan melakukan tes dan interview Februari depan, tiba – tiba saja ada kabar kedatangan 3 orang perawat Indonesia yang diterima kerja di salah satu RS swasta di Kuwait.

Banyak yang menanyakan kapan proses rekrutmen mereka sehingga tiba – tiba saja sudah sampai di Kuwait.

Oleh karena banyak yang bertanya – tanya akan hal tersebut, maka kami tadi malam bersama teman – teman INNAK berusaha mengunjungi 3 orang perawat tersebut di apartment tempat tinggal mereka yang merupakan fasilitas akomodasi free dari RS Dar Alshifa.

wawancara dengan new comer

wawancara dengan new comer

Wah keren banget karena mereka menempati bangunan yang baru saja selesai dibangun. Jadi masih tampak baru semua fasilitasnya. Bangunan tersebut terletak di Hawally blok 11, tidak jauh dari RS.

Ketika rombongan kami tiba disana, tampak 3 orang perawat tersebut sudah menunggu di ruang tamu, sambil menonton tv. Mereka tampak sedang bercanda dan kelihatan diantara mereka bercanda dengan orang arab serta ada 2 orang anak kecil arab diantaranya, wow keren,,, baru datang kemarin tapi sudah mulai bercanda ama anak – anak kecil arab, berarti udah bisa ngomong arab ama inggris lancar pastinya…beda ama kami – kami yang dulu pertama kali datang ke Kuwait hehe…

Jadi ternyata mereka bertiga bener – bener fresh graduate dari program Ners ( Ns ). Mereka menceritakan bahwa September 2017 yang lalu sebelum mereka diwisuda, mereka melakukan tes dan interview padahal mereka belum wisuda Ns. nya… kemudian 4 bulan berikutnya mereka sudah sampai di Kuwait. Relatif cepat juga ya proses rekrutmennya… Jadi mereka ini ternyata adalah hasil training LPK LN Errena Skills and Training Center bersama LP3TKI Surabaya dan BNP2TKI yang diadakan di STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun sekitar Agustus 2017….bersama PPTKIS Timurraya Jaya Lestari Jakarta, sebagai agen penyalurnya…. Singkat cerita kemudian mereka mengikuti interview langsung oleh tim penguji dari Kuwait. Tim penguji tersebut datang sendiri ke Indonesia tentunya atas rekomendasi KBRI Kuwait. Dan alhamdulillah 3 orang dari 1 kampus tersebut lolos dan diterima kerja di Kuwait, dimana 8 bulan sebelumnya ternyata juga sudah ada 1 orang perawat asal Makasar yang juga sudah diterima kerja duluan di RS yang sama, mungkin tidak banyak orang yang mengetahui kedatangan 1 orang perawat tsb.

Para user menghitung 2 tahun mereka menempuh program profesi Ns. tersebut dianggap 2 tahun experience. Jadi bagi teman – teman yang kali ini hampir selesai Ns.nya udah bisa ikut rekrutmen Kuwait yaw, jadi hitungan 2 tahun experience itu tidak 2 tahun setelah Ns, melainkan 2 tahun pasca kelulusan S.Kep.

Mereka juga menceritakan bahwa STR pun belum mereka pegang sampai saat ini, melainkan hanya punya surat rekomendasi saja sudah bisa buat menggantikan STR.

Kelihatannya mereka bertiga semangat bekerja di Kuwait dan semakin senang dengan kedatangan kami. Mereka siap berperan aktif di INNAK sebagai organisasi profesi, selain juga siap aktif di ormas – ormas yang ada di Kuwait sebagai bagian dari diaspora Kuwait. Kami ucapkan welcome di Kuwait kepada saudari Ns. Liana Tulizzah, S.Kep, Ns. Meri Wahyuningtyas, S.Kep, Ns. Ima Kholifatun, S.Kep, semoga 47 orang yang kini sedang melakukan rekrutmen di Indonesia juga segera menyusul bergabung bersama kami di Kuwait. Bagi teman – teman yang belum mendaftar ke Kuwait, jangan takut atau was – was buat datang dan bekerja di Kuwait, karena semua diaspora yang ada di Kuwait sungguh menanti – nanti kedatangan kalian semua.

Selamat Datang 3 Orang Keluarga Baru INNAK di Kuwait

3 perawat new comer

Selamat Datang 3 Orang Keluarga Baru INNAK di Kuwait

 

Sudah lama di Kuwait tidak ada lagi rekrutmen perawat baru dari negara Indonesia. Rekrutmen terakhir sekitar tahun 2009 – 2010. Sehingga otomatis jumlah perawat Indonesia yang bekerja di negara Kuwait tidak ada penambahan, malahan lambat laun semakin berkurang.

3 perawat new comer

3 perawat new comer

Diketahui bahwa setelah rekrutmen tahun 2009 itu sebenarnya sudah dilakukan beberapa kali agenda rekrutmen baru, namun selalu gagal. Seperti rekrutmen perawat ambulance sub kontrak, sudah dilakukan ujian, namun tidak ada satu pun yang terealisasi untuk diterbangkan. Disusul kemudian rekrutmen perawat buat di tempatkan di RS Royal Hayat, kabarnya tidak ada yang lulus tes sama sekali. Setelah itu ada lagi kabar rekrutmen perawat MOH, itupun juga kabarnya dibatalkan, dikarenakan jumlah pendaftar yang minim sekali.

Namun alhamdulillah malam  ini dikabarkan ada 3 orang perawat  yang diterbangkan ke Kuwait. Perawat –  perawat tersebut rencananya akan dipekerjakan di RS  Dar Al-Shifa. Berikut nama – nama 3 orang perawat tersebut :  Liana Tulizzah, Meri Wahyuningtyas, Ima Kholifatun.

Ketiga orang perawat tersebut rencananya diterbangkan bersama-sama dengan staf – staf baru RS Dar Al-Shifa yang  akan menempati beberapa sektor di luar keperawatan,seperti : sopir, OB dll. Pesawat yang akan ditumpangi adalah Emirates Airlines dengan nomor penerbangan EK 357 lepas landas hari ini, Kamis, 18 Januari 2018 pukul 17:45 WIB,  transit di Dubai pukul 23:15 – 00:55 waktu Dubai. Dan insya Allah akan mendarat di Kuwait airport besok hari Jum’at, 19 Januari 2018 pukul 01:45 dini hari waktu Kuwait dengan nomor penerbangan EK 853.

Kami ucapkan selamat datang di Kuwait, ahlan wa sahlan fil Kuawait. Kami seluruh diaspora Kuwait, khususnya PPNI DPLN Kuwait atau lebih dikenal INNAK dengan senang hati, dengan tangan terbuka lebar – lebar menyambut teman – teman semua yang rencananya mendarat di Kuwait dini hari nanti.

Bangkitlah Perawatku

BANGKITLAH PERAWAT KU*

Tahun berganti sebagaimana mestinya, waktu berputar menandakan pergantian siang dan malam, proses perjalanan menuju Timur Tengah kini memasuki tahun ketiga sejak April tahun 2015 memutuskan untuk mengembara meninggalkan desa. Langkah berani anak muda seumur saya membuat sebagian keluarga bertanya bahkan tidak percaya. Dengan modal nekat saya melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman di bagian Selatan Sumbawa, NTB.

Bangkitlah perawatku

Bangkitlah perawatku

Diantar kakak pertama menggunakan sepeda motor dengan menempuh jarak 3 jam ke Kota, disetiap tikungan dan tanjakan jalanan di hutan, angin segar menerabas helm standar yang saya pakai sejak kuliah dulu, jalan mulus yang baru diperbaiki sejak 10 tahun rusak parah mengiringi besi tua itu mengantarkan saya menuju cita-cita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan hanya membawa 4 baju dan 2 celana panjang serta jaket lusuh seadanya, saya merasakan aroma kemiskinan ini dengan penuh kesyukuran, masih ada peluang untuk maju selangkah atau melompat agar fase ini terlewati. Saya mencium tangan kakak untuk berpamitan ketika akan menaiki travel perjalanan Sumbawa-Malang, Memeluk dan berpamitan kepada orang tua untuk pergi menuju cita-cita tersebut serta memantapkan niat untuk ke Timur Tengah, mencari ilmu dengan mengikuti pelatihan di Indonesian Nursing Trainers (INT) Malang, Jawa Timur.

Uang seadanya di dompet hasil kerja masih teringat hingga saat ini. Bibi yang mengantarkan hingga ke bus travel memberi saya bekal seadanya. Hari itu diawal tahun 2015, perjalanan dimulai ke orbit lain dunia ini. Saya membayangkan betapa perjalanan ini bukan hanya sebagai perjalanan untuk mencari jati diri tetapi lebih pada perjalanan spiritual menuju cita-cita sukses yang saya impikan. Tidak ada yang bisa diharapkan selain berusaha menemukan takdir itu kemudian mensyukurinya.

Di bulan April 2015 tepat setelah selesai ibadah isya di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Perjalanan menuju orbit lain pun dimulai. Keinginan untuk bekerja di Timur Tengah telah termotivasi setelah  mengikuti pelatihan. Motivasi internal dan eksternal telah mendorong saya untuk melangkah bahkan melompati fase-fase kedukaan hidup menuju pada fase keseimbangan dimana daya pikul dan daya tahan untuk berbuat dan bermanfaat bagi sesama menjadi langkah selanjutnya yang harus terlaksana. Indonesian Nursing Trainers (INT) Malang telah mengubah persepsi saya tentang sukses itu sendiri.

Itulah takdir yang telah dan sedang saya jalani hingga saat ini. Kesyukuran sebagai hamba yang lemah dan tempaan mental sejak kuliah membuat saya merasakan bahwa masalah hanya proses untuk naik kelas. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang menerpa adalah adagium nyata untuk menguatkan daya tahan untuk menjadi pribadi kuat dan kokoh dalam menggapai cita dan harapan diri.

Meski pada awalnya tidak ada keinginan menjadi perawat, namun profesi ini telah membuat langkah saya terbuka menuju hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dulu hanya bisa menonton secara langsung sholat tarawih di masjidil haram namun karena profesi ini, mengikuti langsung sholat tarawih di masjidil haram telah terlaksana bahkan umroh telah ditunaikan, sungguh segala Nikmat dari Allah SWT.

Proses menuju kebahagiaan ini tentu bukan jalan mudah, ada kesedihan, pesimisme orang lain terhadap kita, hinaan dan cacian yang disematkan kepada kita. Tapi semuanya bukan akhir dari segalanya. Proses-proses itu membuat langkah ini berjalan bahkan melompat dengan cepat dan lebih tinggi dari apa yang diimpikan sebelumnya. Mental ini yang sebenarnya ingin saya tularkan kepada perawat-perawat kita yang masih santai dengan ketidakpastian masa depan, pada perawat kita yang masih manja dengan kekayaan orang tua yang ada, pada perawat kita yang berpraktik di jalan yang salah juga pada perawat kita melihat kesedihan tanpa gerak dan perjuangan.

Betapapun kita terlihat stylish tetapi jika semuanya di dapatkan dari gaji orang tua, rasanya kehadiran kita bukan apa-apa. betapapun tinggi pendidikan kita, jika hanya untuk menjadi sombong dengan bekerja pada sistem yang diperoleh dengan cara kekeluargaan atau nepotisme, sungguh tidak ada arti ilmu itu. Bergerak menemukan takdir dengan perjuangan sugguh hal mulia, karena tidak hanya bahagia yang terasa tetapi juga kesyukuran karena kita punya Tuhan dalam setiap gerak dan langkah juga tarikan dan hembusan nafas.

Bangkitlah perawat Ku, carilah penghidupan pada jalan-jalan yang baik, bergeraklah, berjuanglah untuk kebaikan diri juga berusaha menggapai eskalasi puncak titian yang diharapkan. Kita tidak harus berfokus pada orientasi hidup tetapi juga pada daya pikul dan daya tahan yang ada karena tentu Allah SWT tidak pernah menciptakan masalah melainkan ada solusi yang menyertainya juga tidak menciptakan kesulitan melainkan juga diiringi dengan kemudahan.

Berhijrahlah, mereka-mereka yang berhijrah bukan karena orang lain tetapi karena nurullah yang terpancar kemudian menjadi kesadaran dalam diri untuk mau berbenah melihat peluang dan kesempatan yang ada. 

Achir Fahruddin*

Perawat di Comprehensive Rehabilitation Centre Riyadh

Alumni Akper Sumbawa