Bangkitlah Perawatku

BANGKITLAH PERAWAT KU*

Tahun berganti sebagaimana mestinya, waktu berputar menandakan pergantian siang dan malam, proses perjalanan menuju Timur Tengah kini memasuki tahun ketiga sejak April tahun 2015 memutuskan untuk mengembara meninggalkan desa. Langkah berani anak muda seumur saya membuat sebagian keluarga bertanya bahkan tidak percaya. Dengan modal nekat saya melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman di bagian Selatan Sumbawa, NTB.

Bangkitlah perawatku

Bangkitlah perawatku

Diantar kakak pertama menggunakan sepeda motor dengan menempuh jarak 3 jam ke Kota, disetiap tikungan dan tanjakan jalanan di hutan, angin segar menerabas helm standar yang saya pakai sejak kuliah dulu, jalan mulus yang baru diperbaiki sejak 10 tahun rusak parah mengiringi besi tua itu mengantarkan saya menuju cita-cita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan hanya membawa 4 baju dan 2 celana panjang serta jaket lusuh seadanya, saya merasakan aroma kemiskinan ini dengan penuh kesyukuran, masih ada peluang untuk maju selangkah atau melompat agar fase ini terlewati. Saya mencium tangan kakak untuk berpamitan ketika akan menaiki travel perjalanan Sumbawa-Malang, Memeluk dan berpamitan kepada orang tua untuk pergi menuju cita-cita tersebut serta memantapkan niat untuk ke Timur Tengah, mencari ilmu dengan mengikuti pelatihan di Indonesian Nursing Trainers (INT) Malang, Jawa Timur.

Uang seadanya di dompet hasil kerja masih teringat hingga saat ini. Bibi yang mengantarkan hingga ke bus travel memberi saya bekal seadanya. Hari itu diawal tahun 2015, perjalanan dimulai ke orbit lain dunia ini. Saya membayangkan betapa perjalanan ini bukan hanya sebagai perjalanan untuk mencari jati diri tetapi lebih pada perjalanan spiritual menuju cita-cita sukses yang saya impikan. Tidak ada yang bisa diharapkan selain berusaha menemukan takdir itu kemudian mensyukurinya.

Di bulan April 2015 tepat setelah selesai ibadah isya di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Perjalanan menuju orbit lain pun dimulai. Keinginan untuk bekerja di Timur Tengah telah termotivasi setelah  mengikuti pelatihan. Motivasi internal dan eksternal telah mendorong saya untuk melangkah bahkan melompati fase-fase kedukaan hidup menuju pada fase keseimbangan dimana daya pikul dan daya tahan untuk berbuat dan bermanfaat bagi sesama menjadi langkah selanjutnya yang harus terlaksana. Indonesian Nursing Trainers (INT) Malang telah mengubah persepsi saya tentang sukses itu sendiri.

Itulah takdir yang telah dan sedang saya jalani hingga saat ini. Kesyukuran sebagai hamba yang lemah dan tempaan mental sejak kuliah membuat saya merasakan bahwa masalah hanya proses untuk naik kelas. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang menerpa adalah adagium nyata untuk menguatkan daya tahan untuk menjadi pribadi kuat dan kokoh dalam menggapai cita dan harapan diri.

Meski pada awalnya tidak ada keinginan menjadi perawat, namun profesi ini telah membuat langkah saya terbuka menuju hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dulu hanya bisa menonton secara langsung sholat tarawih di masjidil haram namun karena profesi ini, mengikuti langsung sholat tarawih di masjidil haram telah terlaksana bahkan umroh telah ditunaikan, sungguh segala Nikmat dari Allah SWT.

Proses menuju kebahagiaan ini tentu bukan jalan mudah, ada kesedihan, pesimisme orang lain terhadap kita, hinaan dan cacian yang disematkan kepada kita. Tapi semuanya bukan akhir dari segalanya. Proses-proses itu membuat langkah ini berjalan bahkan melompat dengan cepat dan lebih tinggi dari apa yang diimpikan sebelumnya. Mental ini yang sebenarnya ingin saya tularkan kepada perawat-perawat kita yang masih santai dengan ketidakpastian masa depan, pada perawat kita yang masih manja dengan kekayaan orang tua yang ada, pada perawat kita yang berpraktik di jalan yang salah juga pada perawat kita melihat kesedihan tanpa gerak dan perjuangan.

Betapapun kita terlihat stylish tetapi jika semuanya di dapatkan dari gaji orang tua, rasanya kehadiran kita bukan apa-apa. betapapun tinggi pendidikan kita, jika hanya untuk menjadi sombong dengan bekerja pada sistem yang diperoleh dengan cara kekeluargaan atau nepotisme, sungguh tidak ada arti ilmu itu. Bergerak menemukan takdir dengan perjuangan sugguh hal mulia, karena tidak hanya bahagia yang terasa tetapi juga kesyukuran karena kita punya Tuhan dalam setiap gerak dan langkah juga tarikan dan hembusan nafas.

Bangkitlah perawat Ku, carilah penghidupan pada jalan-jalan yang baik, bergeraklah, berjuanglah untuk kebaikan diri juga berusaha menggapai eskalasi puncak titian yang diharapkan. Kita tidak harus berfokus pada orientasi hidup tetapi juga pada daya pikul dan daya tahan yang ada karena tentu Allah SWT tidak pernah menciptakan masalah melainkan ada solusi yang menyertainya juga tidak menciptakan kesulitan melainkan juga diiringi dengan kemudahan.

Berhijrahlah, mereka-mereka yang berhijrah bukan karena orang lain tetapi karena nurullah yang terpancar kemudian menjadi kesadaran dalam diri untuk mau berbenah melihat peluang dan kesempatan yang ada. 

Achir Fahruddin*

Perawat di Comprehensive Rehabilitation Centre Riyadh

Alumni Akper Sumbawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *